Mengenal Tanaman Rempah Lada Dari Desa Longkeyang

Desa Longkeyang mempunyai banyak potensi alam berupa persawahan dan perkebunan. Letak geografis Desa Longkeyang yang berada di pegunungan membuat tanah subur dan mudah untuk bercocok tanam. Jenis tanah tersebut adalah tanah litosol, sehingga apabila untuk bercocok tanam, hanya membutuhkan sedikit campuran pupuk agar tanaman tumbuh subur. Komoditas hasil pertanian yang utama di Desa Longkeyang adalah pertanian padi, merica, jagung, singkong, dan sedikit pertanian buah-buahan. Hal inilah yang menyebabkan Desa Longkeyang menjadi salah satu desa pemasok hasil pertanian ke wilayah sekitarnya dan bahkan ke luar pemalang.

Merica atau lada merupakan salah satu hasil tanaman yang banyak dimiliki masyarakat di lahan perkebunan mereka. Tanaman lada yang tumbuh di Desa Longkeyang merupakan lada perdu atau disebut dengan merica putih. Tanaman ini sangat mudah pembibitan dan perawatannya, sehingga penanaman tanaman ini tidak hanya di lahan perkebunan, akan tetapi dapat di tanam di halaman rumah. Sebagian besar masyarakat Desa Longkeyang memiliki tanaman rempah ini.

Merica/lada/sahang dalam bahasa latin Piper Nigrum adalah tanaman rempah yang mengandung berbagai nutrisi yang baik untuk kesehatan. Tanaman rempah ini merupakan tanaman penyumbang devisa negara nomor 4 di Indonesia. Penanaman lada perdu di Desa Longkeyang dapat menjadi sebuah peluang usaha, karena tanaman ini memiliki keunggulan dalam hal budidayanya, antara lain:

  1. Biaya yang murah dalam hal penanaman dan perawatannya
  2. Dapat menggunakan atau tidak menggunakan tiang panjat, biasanya masyarakat menggunakan media tanaman yang besar untuk merambatkan lada perdu
  3. Tanaman tidak perlu rutin untuk diberikan pupuk atau perawatan lainnya, hanya menggunakan air hujan sebagai penyiramannya
  4. Berproduksi lebih awal, biasanya lada memerlukan waktu 7 bulan untuk dapat dipanen. Tanaman Lada berbunga dari bulan Januari dan dipanen sekitar bulan Agustus

Masyarakat Desa Longkeyang tidak hanya mengkonsumsi lada untuk keperluan pribadi memasak, akan tetapi juga telah memasarkan lada ke pasar atau menjualnya ke tengkulak. Proses pemanenan sampah dengan proses penjualan antara lain yaitu: pertama, lada di rendam selama 15 dengan dialiri dengan air yang mengalir, agar mendapatkan hasil lada yang putih dan bersih. Kedua, dikeringkan dengan melalui proses penjemuran. Ketiga, dijual ke pengepul atau tengkulak. Pemasaran lada saat ini hanya dijual dalam bentuk mentahnya saja, namun belum terdapat inovasi dalam meningkatkan daya jal lada, seperti dalam bentuk lada bubuk atau inovasi lada diolah menjadi minyak dan lain-lain.

Tinggalkan Balasan